Kamis, 03 Oktober 2019

Adakah Mawar tanpa Duri?

Menanti atau merintih. Rasanya enggan bahkan segan bagi diri. Lembaran kali ini penuh dengan hati-hati. Dulu sempat teralami. Namun pahit ku dapati.

Bisikan hati bagaikan duri. Korelasi sulit terkendali. Trauma selalu ku alami. Akankah selamanya seperti ini?

Ku coba buka celah hati. Seperti ada yang menakuti. Hingga langkah terhenti. Tetap diam menanti.

Menanti untuk merintih. Rasanya bosan ku akui. Terputar kembali, lagu lama yg mengiringi. Selalu seperti ini.

Tekadku beranjak. Merubah sistem lama. Mengatur ulang alur cerita. Mencoba menebak, tetap tak kuasa. Sampai kapan?

Akankah ku dapati mawar tanpa duri? Tulus dengan hati. Komitmen pada janji. Ingkar dijauhi. Khianat tak ku kenali.

Ceritaku sampai di sini. Tak tahu apa yang akan terjadi. Semoga tetap mawas diri. Hingga luka tak pernah kembali.


#menanti#cinta#semu#galau#puisi

Minggu, 17 Februari 2019

Aku dan Tentangmu

Lima tahun. Waktu yang tak singkat bukan? Semua rasa telah tertanam. Sedih, senang, bahagia dan luka. Semuanya sudah tak asing dirasa.

Namun, ada luka yang tertanam di sini, bersamaku. Tetap tinggal.. dan tak pernah pergi. Hampa selalu menemani. Harap yang tak terwujud melukiskan hujan basahi pipi. Hati … tak pernah berhenti. Menjerit histeris tak terkendali.

Bahagia. Aku lupa bagaimana rasanya. Meski setiap hari ku tertawa. Tak pernah lupa ada luka yang kurasa. Tertawa pun bukan tanda bahagia. Resah, gelisah. Itu yang selalu ku rasa.

Aku tak tahu langkah mana yang akan ku tempuh. Setiap langkah ku lalui, ingatanku selalu kembali. Bukan aku tak ingin lupa. Apa daya? Rasa ini terlalu kuat.

Aku juga tak ingin bertahan. Menahan sakit, perih, cinta dan dusta sendirian. Tak ada senja menyapa. Tak ada fajar memberi kabar. Malamku pun tak berbintang.

Janji. Aku sudah tak percaya dengan namanya janji. Mungkin bagiku, janji hanya pemanis dalam hidup. Jika janji adalah kekuatan. Mengapa dusta yang ku dapatkan?

Kamu. Banyak sekali yang ingin aku ungkapkan. Namun, banyak pula alasan untuk tidak mengungkapkan.

Tulisanku, berhenti di sini. Dengan segala kebingungan. Apa lagi kata yang harus aku ungkapkan. Sementara tangis sudah mewakilkan. Aku… tak sanggup.


#putus#cinta#patahhati#sakit#galau#puisi

Selasa, 15 Januari 2019

Biarkan aku bermain hati denganmu


Selalu. Ku selalu terdiam.
Tapi bukan meredam.
Bukan pula menggenggam.

Lalu lintas benakku terhenti,
seolah lampu merah sepanjang hari,
tak ada kuning atau hijau hiasi,
selalu seperti ini.

Memang, dari dulu.
Setiap dan selalu.
Hingga berlalu.
Pikirku tak laju.

Stop. Aku tak bisa.
Mengkiaskan sebuah kata.
Ungkapkan semua majas.
Hanya untuk satu nama.
Aku...tak bisa.

Bagiku, dirimu terlalu indah.
Tak pantas aku torehkan 
dalam sajakku.

Keindahan dirimu..
telah banyak dibayang orang,
telah banyak dikenang orang,
telah banyak disanjung orang.

Apa aku harus ikut?
Menyanjungmu dalam sebuah sajak,
yang tertoreh dalam secarik kertas 
hiaskan berbagai warna tinta?
Tidak.
Dirimu terlalu berharga bagiku.
Tetap dalam prinsipku,
biarkan aku..bermain hati denganmu.
Ya Rasulalloh😊

Senin, 07 Januari 2019

Aku adalah Negeri

Renungku bergerak. Seolah menggambarkan kejadian yang pasti terjadi. Renungku terkibas angin, fyuhh~ menghilang. Aku ragu, tapi aku tahu. Aku benar, tapi tak tegar. Aku lemah, tapi tak lengah. Yaa begitulah aku. Kebenaran disesatkan. Kesesatan dibenarkan. Apakah arti hidup yang sebenarnya? 

Ketika aku menelusuri kenyamanan. Ku temukan langit yang begitu birunya seolah berkata, "kebahagiaan hidup, ada padamu" ku tersenyum menguatkan asa yang sempat pudar. Ku temukan rerumput hijau nan segar, mereka menyapa "keindahan dirimu membuat kami hijau hari ini" wajahku merona. Bahkan, ku dapati bisikan angin "pesonamu ada pada dirimu" ku melayang saaaaaaaangat jauh hingga ku dapati himpunan bunga bermekaran indah kala dipandang.

Aku bahagia. Yaa aku bahagia. Sebelum aku rusak. Hahaha.. Perusak hidup akan selamanya menjadi hama di setiap langkah kecilku. Perusak hidup akan menjadi pengingat di setiap roda pikirku. Perusak hidup akan menjadi cambuk di setiap tindakku. Aku benci semuanya. Benci kepalsuan. Benci kelicikan. Benci pendustaan. Benci pencitraan. Apakah ini hal yang paling menarik dalam kehidupan dunia?

Aku terlalu indah untuk dimusnahkan. Bukankah kehidupan kalian ada padaku? Roda hidup kalian berpijak padaku? Aku memersembahkan semuanya. Bukankah kekayaanku pun kalian makan? Apa kurangku? Sudikah kau berterimakasih padaku? Sudikah kau menjagaku? Sudikah kau memerindah diriku? Itu yang aku tunggu. Hanya itu.

Hingga aku dapati jawab dari semuanya. Ucapan terima kasih kalian rupanya berhasil membuatku terkejut. Sangat terkejut. Perpecahan semakin marak. Perbedaan bukan lagi perekat untuk bersatu. Perbedaan tetap perbedaan. Setiap golongan saling menjatuhkan. Hancurr. Kacau. Sangat kacau. Masihkah ada rasa cinta untukku? Masihkah ada kebanggan atas diriku? Aku kecewa.

Bangunlah kalian ! Jangan ingin diperbudak! Jangan biarkan tangan asing yang mengadopsiku. Jangan biarkan tangan asing menyertku. Jangan biarkan tangan asing mengendalikanku. Aku tak sudi. Cobalah kalian ingat sejarah. Bukankah leluhur kalian sangat menjungjungku? Bagaimana mereka mengelolaku, apa kalian tahu? Bukankah sangat sulit? Hingga mereka rela berlumuran darah, rela kehilangan apa pun, bahkan rela kehilangan nyawa sekali pun. Itu semua demi aku. Semuanya demi aku. Bagaimana dengan kalian? Akankah kalian membiarkan aku hilang dari tangan kalian?  Sadarlah kalian, bukalah mata hati kalian. Sebelum semuanya berlalu. Ingat, aku terlalu indah untuk dimusnahkan.

#karangan#negara#emosi#rakyat#nasionalisme