Selalu. Ku selalu terdiam.
Tapi bukan meredam.
Bukan pula menggenggam.
Lalu lintas benakku terhenti,
seolah lampu merah sepanjang hari,
tak ada kuning atau hijau hiasi,
selalu seperti ini.
Memang, dari dulu.
Setiap dan selalu.
Hingga berlalu.
Pikirku tak laju.
Stop. Aku tak bisa.
Mengkiaskan sebuah kata.
Ungkapkan semua majas.
Hanya untuk satu nama.
Aku...tak bisa.
Bagiku, dirimu terlalu indah.
Tak pantas aku torehkan
dalam sajakku.
Keindahan dirimu..
telah banyak dibayang orang,
telah banyak dikenang orang,
telah banyak disanjung orang.
Apa aku harus ikut?
Menyanjungmu dalam sebuah sajak,
yang tertoreh dalam secarik kertas
hiaskan berbagai warna tinta?
Tidak.
Dirimu terlalu berharga bagiku.
Tetap dalam prinsipku,
biarkan aku..bermain hati denganmu.
Ya Rasulalloh😊
Tapi bukan meredam.
Bukan pula menggenggam.
Lalu lintas benakku terhenti,
seolah lampu merah sepanjang hari,
tak ada kuning atau hijau hiasi,
selalu seperti ini.
Memang, dari dulu.
Setiap dan selalu.
Hingga berlalu.
Pikirku tak laju.
Stop. Aku tak bisa.
Mengkiaskan sebuah kata.
Ungkapkan semua majas.
Hanya untuk satu nama.
Aku...tak bisa.
Bagiku, dirimu terlalu indah.
Tak pantas aku torehkan
dalam sajakku.
Keindahan dirimu..
telah banyak dibayang orang,
telah banyak dikenang orang,
telah banyak disanjung orang.
Apa aku harus ikut?
Menyanjungmu dalam sebuah sajak,
yang tertoreh dalam secarik kertas
hiaskan berbagai warna tinta?
Tidak.
Dirimu terlalu berharga bagiku.
Tetap dalam prinsipku,
biarkan aku..bermain hati denganmu.
Ya Rasulalloh😊