Selasa, 15 Januari 2019

Biarkan aku bermain hati denganmu


Selalu. Ku selalu terdiam.
Tapi bukan meredam.
Bukan pula menggenggam.

Lalu lintas benakku terhenti,
seolah lampu merah sepanjang hari,
tak ada kuning atau hijau hiasi,
selalu seperti ini.

Memang, dari dulu.
Setiap dan selalu.
Hingga berlalu.
Pikirku tak laju.

Stop. Aku tak bisa.
Mengkiaskan sebuah kata.
Ungkapkan semua majas.
Hanya untuk satu nama.
Aku...tak bisa.

Bagiku, dirimu terlalu indah.
Tak pantas aku torehkan 
dalam sajakku.

Keindahan dirimu..
telah banyak dibayang orang,
telah banyak dikenang orang,
telah banyak disanjung orang.

Apa aku harus ikut?
Menyanjungmu dalam sebuah sajak,
yang tertoreh dalam secarik kertas 
hiaskan berbagai warna tinta?
Tidak.
Dirimu terlalu berharga bagiku.
Tetap dalam prinsipku,
biarkan aku..bermain hati denganmu.
Ya Rasulalloh😊

Senin, 07 Januari 2019

Aku adalah Negeri

Renungku bergerak. Seolah menggambarkan kejadian yang pasti terjadi. Renungku terkibas angin, fyuhh~ menghilang. Aku ragu, tapi aku tahu. Aku benar, tapi tak tegar. Aku lemah, tapi tak lengah. Yaa begitulah aku. Kebenaran disesatkan. Kesesatan dibenarkan. Apakah arti hidup yang sebenarnya? 

Ketika aku menelusuri kenyamanan. Ku temukan langit yang begitu birunya seolah berkata, "kebahagiaan hidup, ada padamu" ku tersenyum menguatkan asa yang sempat pudar. Ku temukan rerumput hijau nan segar, mereka menyapa "keindahan dirimu membuat kami hijau hari ini" wajahku merona. Bahkan, ku dapati bisikan angin "pesonamu ada pada dirimu" ku melayang saaaaaaaangat jauh hingga ku dapati himpunan bunga bermekaran indah kala dipandang.

Aku bahagia. Yaa aku bahagia. Sebelum aku rusak. Hahaha.. Perusak hidup akan selamanya menjadi hama di setiap langkah kecilku. Perusak hidup akan menjadi pengingat di setiap roda pikirku. Perusak hidup akan menjadi cambuk di setiap tindakku. Aku benci semuanya. Benci kepalsuan. Benci kelicikan. Benci pendustaan. Benci pencitraan. Apakah ini hal yang paling menarik dalam kehidupan dunia?

Aku terlalu indah untuk dimusnahkan. Bukankah kehidupan kalian ada padaku? Roda hidup kalian berpijak padaku? Aku memersembahkan semuanya. Bukankah kekayaanku pun kalian makan? Apa kurangku? Sudikah kau berterimakasih padaku? Sudikah kau menjagaku? Sudikah kau memerindah diriku? Itu yang aku tunggu. Hanya itu.

Hingga aku dapati jawab dari semuanya. Ucapan terima kasih kalian rupanya berhasil membuatku terkejut. Sangat terkejut. Perpecahan semakin marak. Perbedaan bukan lagi perekat untuk bersatu. Perbedaan tetap perbedaan. Setiap golongan saling menjatuhkan. Hancurr. Kacau. Sangat kacau. Masihkah ada rasa cinta untukku? Masihkah ada kebanggan atas diriku? Aku kecewa.

Bangunlah kalian ! Jangan ingin diperbudak! Jangan biarkan tangan asing yang mengadopsiku. Jangan biarkan tangan asing menyertku. Jangan biarkan tangan asing mengendalikanku. Aku tak sudi. Cobalah kalian ingat sejarah. Bukankah leluhur kalian sangat menjungjungku? Bagaimana mereka mengelolaku, apa kalian tahu? Bukankah sangat sulit? Hingga mereka rela berlumuran darah, rela kehilangan apa pun, bahkan rela kehilangan nyawa sekali pun. Itu semua demi aku. Semuanya demi aku. Bagaimana dengan kalian? Akankah kalian membiarkan aku hilang dari tangan kalian?  Sadarlah kalian, bukalah mata hati kalian. Sebelum semuanya berlalu. Ingat, aku terlalu indah untuk dimusnahkan.

#karangan#negara#emosi#rakyat#nasionalisme