Minggu, 17 Februari 2019

Aku dan Tentangmu

Lima tahun. Waktu yang tak singkat bukan? Semua rasa telah tertanam. Sedih, senang, bahagia dan luka. Semuanya sudah tak asing dirasa.

Namun, ada luka yang tertanam di sini, bersamaku. Tetap tinggal.. dan tak pernah pergi. Hampa selalu menemani. Harap yang tak terwujud melukiskan hujan basahi pipi. Hati … tak pernah berhenti. Menjerit histeris tak terkendali.

Bahagia. Aku lupa bagaimana rasanya. Meski setiap hari ku tertawa. Tak pernah lupa ada luka yang kurasa. Tertawa pun bukan tanda bahagia. Resah, gelisah. Itu yang selalu ku rasa.

Aku tak tahu langkah mana yang akan ku tempuh. Setiap langkah ku lalui, ingatanku selalu kembali. Bukan aku tak ingin lupa. Apa daya? Rasa ini terlalu kuat.

Aku juga tak ingin bertahan. Menahan sakit, perih, cinta dan dusta sendirian. Tak ada senja menyapa. Tak ada fajar memberi kabar. Malamku pun tak berbintang.

Janji. Aku sudah tak percaya dengan namanya janji. Mungkin bagiku, janji hanya pemanis dalam hidup. Jika janji adalah kekuatan. Mengapa dusta yang ku dapatkan?

Kamu. Banyak sekali yang ingin aku ungkapkan. Namun, banyak pula alasan untuk tidak mengungkapkan.

Tulisanku, berhenti di sini. Dengan segala kebingungan. Apa lagi kata yang harus aku ungkapkan. Sementara tangis sudah mewakilkan. Aku… tak sanggup.


#putus#cinta#patahhati#sakit#galau#puisi

3 komentar:

  1. Ingin rasanya kuluapkan segala kekesalan, mengenang sebuah pengkhianatan. Nyatanya, aku hanya dapat merintih,menahan rasa sakit yang sungguh lirih

    BalasHapus