Mereka memiliki peran masing-masing. Sebagai penerang dan penenang. Jika matahari penerang siang, maka bulan penerang malam. Namun lain dengan bumi, ialah sebagai penenang siang maupun malam.
Begitu pun aku, kamu dan kita. Memiliki cerita yang berbeda. Dengan klimaks yg tak sama. Namun, karena sering tukar cerita. Akhirnya kita bersama.
Perbedaan selalu kita tepis. Peluang bermasalah selalu kita kikis. Demi wujud hubungan yang harmonis. Apa pun dianggap manis. Ciptakan bahagia berlapis.
Kita sadar. Tertawa wujud terima. Tertawa wujud cinta. Tertawa wujud bahagia. Dan tertawa adalah kita.
Kita memiliki pemikiran yg sama. Meyakini bahwa bahagia itu sederhana. Asalkan selalu bersama. Saling terbuka. Terutama, selalu ada aku, kamu, dan kita.
Namun ternyata, kita tak sekokoh karang di lautan. Tak se-setia nelayan pada perahunya.
Kurasa kita lupa awal mula berjumpa. Hingga kita lupa antar sesama.
Aku mengasing, karena aku tak ingin terasing.
Aku tak menjauh, tapi aku mencoba menafsir. Dimana kita bisa senada. Mencari celah untuk bersama. Namun gagal ku rasa.
Kita tak lagi sama. Bahkan sudah tak serupa. Bahagia jarang sekali menyapa. Bersama? Rasanya hambar. Bagai orang asing yang baru bertegur sapa.
Dirimu bukanlah raga yg dulu. Dan aku bagaikan benalu untukmu. Kau tahu? Aku selalu merasa tak guna untukmu. Kini, esok dan nanti. Ku selalu menanti. Ucapan rindu darimu. Namun, adakah kau sedikit merindu?
#sahabat#cinta#jarak#rindu#puisi#galau
Huaaa asrii kerennn:((
BalasHapusNgenaaaa banget sriii.
BalasHapus:( huhu
Zemangadhh terus dalam berkarya !!!
Hehe. Makasiii makasiiii ❤❤
BalasHapusUdah mulai nulis soal rindu-rindu yah sekarang, hehe
BalasHapusWkwk. Iya bang belajar merindu haha
Hapus